Menyontek merupakan suatu fenomena yang telah menjadi wabah pada dunia pendidikan. Hampir semua siswa/i pada setiap jenjang pendidikan pernah melakukannya. Sehingga, perilaku menyontek ini sudah seperti budaya yang lumrah dan wajar bila dilakukan. Siswa/i yang melakukannya pun seakan tidak merasa bahwa hal ini adalah suatu kesalahan.
Budaya menyontek ini ternyata telah menjadi umum dilakukan dikalangan pelajar, tidak hanya oleh siswa/i tetapi juga oleh mahasiswa/i di tingkat perguruan tinggi. Sehingga budaya ini seakan sudah menjadi suatu bagian dari dunia pendidikan. Menyontek merupakan hal yang melanggar aturan sekolah maupun aturan agama, menyontek sama dengan menipu, curang, dan melakukan hal yang tidak baik untuk memperoleh hal yang baik. Oleh sebab itu menyontek tidak sepatutnya dilakukan oleh siswa disekolah.
Menyontek merupakan cara yang dilakukan oleh siswa/peserta didik untuk memperoleh jawaban secara ilegal, menyontek dapat dilakukan seorang diri maupun berkelompok. Menurut Prayitno (2003:101), “Menyontek adalah perbuatan tidak jujur, yaitu seseorang mencuri informasi dengan cara tidak terpuji. Menyontek sama halnya dengan menipu, menggelapkan, mencurangi dan melanggar aturan.” Hal ini senada dengan Flexner (1980) bahwa “yang dimaksud dengan Cheating atau menyontek adalah melakukan ketidakjujuran dalam rangka memenangkan atau meraih keuntungan.” Sementara Eric M. Anderman dan Tamera B. Murdock (2007:34) (dalam Hartanto, 2012:4) memberikan definisi yang lebih terperinci, mereka menyatakan bahwa “perilaku menyontek digolongkan ke dalam tiga kategori: (1) memberikan, mengambil, atau menerima informasi, (2) menggunakan materi yang dilarang atau membuat catatan, (3) memanfaatkan kelemahan seseorang, prosedur, atau proses untuk mendapatkan keuntungan dalam tugas akademik.”
Hal ini tentunya menjadi kekhawatiran kita bersama, pendidikan yang seharusnya menjadi tempat mencari ilmu dan tempat mereka belajar kejujuran malah menjadi tempat untuk mempraktikkan kecurangan dengan berbagai macam cara dan alasan. Siapakah yang salah?, tentunya kita kita tidak bisa semata-mata menyalahkah guru, sekolah, sistem pendidikan atau kurikulum, tapi kita juga harus memperhatikan faktor lain seperti keluarga, motivasi, lingkungan belajar, psikologi siswa, dan lain-lain.
Alasan seseorang menyontek sebenarnya sangat beragam. Menurut Eric M. Anderman dan Tamera B. Murdock (2007) (dalam Hartanto, 2012:5) “berdasarkan persfektif motivasi, beberapa siswa menyontek karena mereka sangat fokus pada nilai atau ranking di kelas, yang lain menyontek karena mereka sangat takut pada kesan yang akan diberikan oleh teman sebaya yakni dianggap bodoh dan dijauhi”.
Menurut Alhaza (2010:37);
Alasan seseorang menyontek, yaitu: a) Karena terpengaruh setelah melihat orang lain menyontek, b) Terpaksa membuka buku karena pertanyaan ujian terlalu text book, c) Merasa guru atau dosen kurang adil dan diskriminatif dalam pemberian nilai, d) Adanya peluang karena pengawasan tidak ketat, e) Takut gagal dalam ujian, f) Ingin mendapatkan nilai tinggi tetapi tidak bersedia belajar keras dan serius, g) Tidak percaya pada kemampuan yang dimiliki, h) Terlalu cemas menghadapi ujian sehingga hilang ingatan sama sekali lalu terpaksa buka buku atau bertanya kepada teman, i) Merasa sulit menghafal atau mengingat karena faktor usia, j) Mencari jalan pintas dengan pertimbangan dari pada mempelajari sesuatu yang belum tentu keluar lebih baik mencari bocoran soal, k) Menganggap sistem penilaian tidak objektif, sehingga pendekatan kepada guru atau dosen lebih efektif dari pada belajar terus, l) Penugasan guru atau dosen yang tidak rasional yang mengakibatkan siswa atau mahasiswa terdesak sehingga terpaksa menempuh segala macam cara.
Orang tua dan guru tentunya menginginkan anak dan siswanya berhasil dalam pendidikan. Salah satu indikator keberhasilan adalah nilai evaluasi pembelajaran seperti nilai ujian dan tugas. Namun tuntutan nilai ketuntasan yang tinggi membuat sebagian siswa terpaksa menyontek.
Untuk itu, untuk mencegah seorang siswa/i melakukan kecurangan dalam pendidikan seperti menyontek, kita semua patut memperhatikan dan menghindari penyebab-penyebabnya. Perlu adanya perhatian dari semua pihak untuk mencegah, mengurangi, atau bahkan menghilangkan perilaku menyontek dari seorang siswa. Misalnya apabila seorang siswa ketahuan menyontek, guru harus menanganinya dengan tepat dan cepat. Jika tidak, perilaku menyontek tersebut dapat dengan cepat menyebar kepada siswa lainnya karena guru atau sekolah tidak memberikan sanksi atau teguran apapun terhadap orang yang menyontek.
Menurut Majid (2012:192) Jika seorang siswa ketahuan menyontek, guru harus cepat tanggap mengambil tindakan. Diantara cara mengatasinya yaitu:
a) Jangan bertindak berlebihan, khususnya jika anak mengakui perbuatannya, b) Tanyakan, kenapa anak menyontek. Jawabannya akan memberitahukan apa yang harus anda lakukan, c) Katakan kepada anak bahwa sebuah nilai B dapat diterima, jika itu menggambarkan hasil terbaiknya atau hasil pekerjaannya sendiri tanpa menyontek, d) Tolonglah diri anak untuk mendapatkan jalan keluarnya, e) Hindarilah nasihat dengan khutbah atau hukuman yang kasar. Jika murid anda ketahuan menyontek, murid biasanya sudah siap menerima beberapa konsekuensi. Ia akan malu dan tahu bahwa ia telah mengecewakan anda.
Karena penyebab timbulnya budaya menyontek sangat beragam, maka sebaiknya orang tua selalu memantau perkembangan anak dalam pendidikannya. Sebagian besar siswa yang menyontek sebenarnya sadar bahwa hal tersebut tidaklah benar, namun mereka terpaksa melakukannya agar lulus ujian atau menghindari hukuman karena pekerjaan rumah atau tugas yang diberikan tidak selasai.
Berdsasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan saat Skripsi, sebagian besar siswa sebenarnya tidak ingin orang tua atau gurunya senang karena mereka mendapatkan nilai yang tinggi dengan cara menyontek karena mereka tau kalau orang tua dan guru tidak akan bangga jika mengetahui bahwa prestasi yang diperoleh dari hasil menyontek. Bahkan mereka sendiri juga tidak bangga dengan prestasi yang diperoleh dari hasil menyontek. Di sisi lain mereka tetap ingin mendapatkan nilai yang tinggi walaupun dengan cara menyontek karena tuntutan nilai dan prestasi yang tinggi dari orang tua dan guru.
Selama budaya menyontek terus menetap di dalam dunia pendidikan dan dengan gampang dilakukan oleh generasi-generasi muda kita, maka sikap tidak jujur dan rasa nyaman dalam berbuat salah akan selalu ada dan menetap dalam hidup dan kehidupan kita.
Semoga Budaya Menyontek dapat kita hilangkan dari dunia pendidikan dengan perhatian kita semua dan dukungan semua pihak. Semoga!
Andi Mustari, S.Pd
No comments:
Post a Comment